Rabu, 18 Mei 2016

Teman (?)

Ya, teman itu

Ketika sudah tak lagi berurusan, tak ada lagi sebuah momen persatuan yang menghubungkan, semua hanya sebatas kerjaan atau kegiatan, itulah teman

Ketika sedang bergelut dengan kesibukan untuk merintis hidup mereka, tak ada hal yang perlu dibahas dan diungkapkan, itulah teman

Ketika tak ada lagi hal yang bisa dikerjakan, barulah mencari, itulah teman

Ketika sedang membutuhkan, segera mencari... itulah teman

Ketika dibutuhkan, perlahan pergi... itulah teman

Ketika dibutuhkan dengan pilihan kesenangan atau membantu, sudah pasti yang dipilih.. itulah teman

Ketika mereka sudah memperoleh yang diinginkan, tak kunjung kembali... itulah teman

Ketika ada sesuatu yang berharga, tak lagi peduli, itulah teman


Mungkin aku sudah lupa definisi teman sesungguhnya, karena sudah terlalu lama hal ini kurasakan. Mungkin saja berteman dahulunya sangat indah dan penuh dengan canda tawa, riang gembira, mungkin aku merindukan masa-masa itu (jika memang benar-benar ada)
 .
 .
 .
 .
 .



Yah, mungkin setiap orang sedang berjuang mengenai sesuatu yang tak pernah kita tahu, sehingga tak berhak untuk men-judge orang tersebut bahwa mereka tak lagi peduli. Yah mungkin aku akan memilih untuk berjuang seperti itu, sehingga tak perlu ada yang menganggap peduli dan tak perlu dipedulikan.

<总是戴着面具>
Hanya kamuflase...


Terkadang hidup ini tidak adil, upaya-upaya yang dilakukan demi kebaikan orang lain tidak banyak dimengerti. Mereka merasakan kebaikan tapi dengan sangat mudah melupakan kebaikan tersebut, hanya dalam kurun waktu sekejap ketika tak lagi dibutuhkan.

Orang-orang cenderung hanya mengikuti ketika berada pada fase yang sama, yaitu ketika sama-sama senang, sedikit sekali ditemukan bahwa orang-orang tetap peduli ketika sedang di masa-masa sulit dan membutuhkan bantuan, SANGAT sedikit orang yang peduli, karena mereka merasa bahwa kita hanya sebatas teman untuk bersenang-senang dan bukan menjadi bagian dari hidupnya.

Terkadang aku membuat sesuatu dengan maksud baik, namun sayangnya sedikit yang memperdulikan gagasanku dan mencemooh, sehingga kekecewaan hampir selalu kurasakan. mungkin aku memang tidak berbakat menjadi seorang EO, sehingga setiap hal yang kuadakan hanya sebatas angin lalu bagi mereka yang tidak mengerti maksudku.

Yah, mungkin memang sebaiknya aku mulai tidak peduli dan menjadi seseorang yang lebih egois dari sebelumnya, dan menjadi orang yang masa bodoh.